point point kesesatan para penyembah thaghut RADIO RODJA


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه.
أما بعد:
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji hanyalah milik Allah, Sholawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta siapa saja yang mengikuti petunjuknya.
Kemudian setelah itu.
oleh itu kami menjelaskan di sini khususnya pada mereka yang ghuluw ” berlebihan ” mengangkat benda mati sebagai tolak ukur kebenaran bahkan lebih dari itu menjadi benda mati ” RADIO RODJA ” ini sebagai ukuran wala dan baro.

oleh karena itu ihkwah mari kita jelaskan dulu apa itu THAGHUT ? ? ?

At Thaghut adalah segala sesuatu yang di`ibadahi selain Allah Tabaaraka wa Ta`aala, ia rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh para peng`ibadat (pemujanya), ataupun ia rela dengan keta`atan orang yang menta`atinya dalam hal kema`siatan kepada Allah Tabaaraka wa Ta`aala dan Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam.

Allah Tabaaraka wa Ta`aala mengutus para rosulNya supaya memerintahkan kaum mereka, agar ber`ibadah hanya kepada Allah Subhaana wa Ta`aaala saja serta menjauhi thogut. Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya: Dan sungguh sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap tiap umat (untuk menyerukan): “Ber`ibadatlah kalian kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu , ada orang orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang orang yang mendustakan (rasul rasul). (QS. An-Nahl : 36).

Marilah kita simak penafsiran ayat yang mulia ini; berkata As Syaikh Abdurahman As Sa’diy Rahimahullahu Ta`aala : “Allah Jalla wa `Alaa telah mengkhabarkan kepada kita bahwa hujjahNya telah tegak atas seluruh umat, bahwasanya tidak ada satu ummat dari umat terdahulu maupun yang terakhir, melainkan Allah Jalla Sya`nuHu telah mengutus kepada umat tersebut seorang Rasul `Alaihis Sholaatu was Salaam, dimana seluruh Rasul `Alaimus Sholaatu was Salaam telah sepakat diatas satu da`wah, satu Din (Agama Islam), yaitu: “dakwah kepada untuk ber`ibadah kepada Allah saja yang tidak ada sekutu bagiNya,”

أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ terbagilah ummat tersebut kepada dua bahagian, sesuai dengan penerimaan mereka terhadap da`wah para RasulNya atau tidak menerimanya, ada diantara merela menerima seruan Rasul `Alaihis Sholaatu was Salaam tersebut, ada yang mengingkarinya, maka jadilah dua golongan, [فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ]’’ “diantara mereka ada orang orang diberi petunjuk oleh Allah”, maksudnya mereka yang mengikuti para rasulNya secara ilmu dan `amalan,[وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ]’ “dan diantara mereka ada pula orang orang yang telah pasti kesesatan atasnya”, maksudnya mereka yg telah mengutamakan kesesatan daripada pentunjuk Rasulnya,{ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ}” “maka berjalanlah kalian dipermukaan bumi”maksudnya, dengan badan-badan dan hati-hati kalian , فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ’’dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam)”,maksudnya, kalian akan melihat hal-hal yang menakjubkan, dan tidaklah kalian melihat orang orang yang mendustakan RasulNya melainkan kebinasaan yang mereka dapatkan”.

Pengertian Thaghut
Secara bahasa, kata ini diambil dari kata طَغَى, artinya melampaui batas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

“Sesungguhnya ketika air melampaui batas, Kami bawa kalian di perahu.” (Al-Haqah:11)
Adapun menurut istilah syariat, definisi yang terbaik adalah yang disebutkan Ibnul Qayyim: “(Thaghut) adalah setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah Subhanahu wa Ta’ala), atau diikuti atau ditaati (jika dia ridha diperlakukan demikian).”

Ibnul Qayyim berkata: “Jika engkau perhatikan thaghut-thaghut di alam ini, tidak akan keluar dari tiga jenis golongan tersebut.”
Definisi lain, thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah (dalam keadaan dia rela).

Wajibnya Mengingkari Thaghut
Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk mengkufuri thaghut dan beriman kepada Allah. Dasarnya adalah:

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya untuk mendakwahkan masalah ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

”Dan telah kami utus pada setiap umat seorang Rasul, (yang menyeru umatnya):Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah oleh kalian thaghut.” (An-Nahl: 36)

2. Kufur kepada thaghut merupakan syarat sah iman, sehingga tidak sah iman seseorang hingga mengingkari thaghut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

”Barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka dia telah berpegang dengan tali yang kokoh.” (Al-Baqarah: 256)

3. Karena ini terkandung dalam lafadz Laa ilaha illallah. Ilallah adalah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kufur kepada thaghut. Laa ilaha menafikan semua peribatan kepada selain Allah. Laa ilaha illallah menetapkan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bentuk Pengingkaran terhadap Thaghut
Para ulama menerangkan bahwa mengkufuri thaghut terwujud dengan enam perkara yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an:
1. Meyakini batilnya peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Meninggalkannya dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati, lisan, dan anggota badan.
3. Membencinya dengan hati dan mencercanya dengan lisan. Cercaan dengan lisan yaitu dengan cara menunjukkan dan menerangkan bahwa sesembahan selain Allah adalah batil dan tidak bisa memberikan manfaat.
4. Mengkafirkan pengikut dan penyembah thaghut.
5. Memusuhi mereka dengan dzahir dan batin, dengan hati dan anggota badan.
6. Menghilangkan sesembahan-sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tangan, jika ada kemampuan

BAB : memulyakan benda mati adalah bentuk sesembahan selain alloh


lihatlah gambar ini : bentuk memulyakan benda mati sangat berlebihan salah satu bentuk perbuatan mendekati kekufuran

sebagai contoh dalam perkara hajar aswad lihatlah sahabat umar bin khotob rodhiyallohua anhu

Pelaku Thawaf yang mengitari Baitullah itu dengan hatinya ia melakukan pengagungan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala yang menjadikannya selalu ingat kepada Allah, semua gerak-geriknya, seperti melangkah, mencium dan beristilam kepada hajar dan sudut (rukun) yamani dan memberi isyarat kepada hajar aswad sebagai dzikir kepada Allah Ta’ala, sebab hal itu bagian dari ibadah kepada-Nya. Dan setiap ibadah adalah dzikir kepada Allah dalam pengertian umumnya. Adapun takbir, dzikir dan do’a yang diucapkan dengan lisan adalah sudah jelas merupakan dzikrullah;

sedangkan mencium hajar aswad itu merupakan ibadah di mana seseorang menciumnya tanpa ada hubungan antara dia dengan hajar aswad selain beribadah kepada Allah semata dengan mengagungkan-Nya dan mencontoh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam hal itu, sebagaimana ditegaskan oleh Amirul Mu’minin, Umar bin Khattab Radhiallaahu anhu ketika beliau mencium hajar aswad mengatakan, “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau (hajar aswad) tidak dapat mendatangkan bahaya, tidak juga manfa’at. Kalau sekiranya aku tidak melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Adapun dugaan sebagian orang-orang awam (bodoh) bahwa maksud dari mencium hajar aswad adalah untuk mendapat berkah adalah dugaan yang tidak mempunyai dasar, maka dari itu batil. Sedangkan yang dinyatakan oleh sebagian kaum Zindiq (kelompok sesat) bahwa thawaf di Baitullah itu sama halnya dengan thawaf di kuburan para wali dan ia merupakan penyembahan terhadap berhala, maka hal itu merupakan kezindikan (kekufuran) mereka, sebab kaum Muslimin tidak melakukan thawaf kecuali atas dasar perintah Allah, sedangkan apa saja yang perin-tahkan oleh Allah, maka melaksanakannya merupakan ibadah kepada-Nya.

Tidakkah anda tahu bahwa melakukan sujud kepada selain Allah itu merupakan syirik akbar, namun ketika Allah Subhannahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para malaikat agar sujud kepada Nabi Adam, maka sujud kepada Adam itu merupakan ibadah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan tidak melakukannya merupakan kekufuran?!
dalam hadits lain menjelaskan tentang sikap berlebihan kepada sosok manusia termasuk khilafush sunnah

Anas bin Malik pun melaporkan bagaimana keadaan para shahabat berkaitan dengannya :

لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ

”Tidak ada seorangpun yang lebih dicintai oleh para shahabat daripada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Akan tetapi, bila mereka melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam (hadir), mereka tidak berdiri untuk beliau, sebab mereka mengetahui bahwa beliau membenci hal tersebut” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2754; shahih].


lihatlah gambar di atas ini : kalimat mengagungkan RADIO RODJA di ungkapkan kepada orang beriman ” imam bukhori ” adalah termasuk berlebihan khilafush sunnah

Satu hari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah memandang Ka’bah, kiblat kaum muslimin, dengan rasa takjub. Lalu beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda :

مَرْحَبًا بِكِ مِنْ بَيْتٍ مَا أَعْظَمَكِ، وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَلَلْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ

”Selamat datang wahai Ka’bah, betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi orang mukmin lebih agung di sisi Allah daripadamu” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan, no. 4014; shahih].

oleh karena itu kita tidak boleh memulyakan segala bentuk benda mati apalagi sebagai tolak ukur AL HAQ kebenaran selain al quran dan as sunnah.

kembali kita menjelaskan point point kesesatan dan uslub uslub dakwah di radio rodja di bawah ini.

point pertama : mengunakan MIHROB pada MASJID AL BARKAH RADIO RODJA adalah khilafush sunnah

bagaiamana mungkin mereka bisa berbuat seperti ini ? sedangkan mereka dalam keadaan lapang untuk tidak mengunakan mihrob.

dengan begitu mewah mereka sururiyyun di masjid cukup megah tidak bisa mengerjakan sunnah dalam perkara ini.

inilah sebagai bukti bahwa mereka mengangap remeh 1 satu bid’ah yang jelas sekali di mata kita gambar di bawah ini.

Berkata al Imam Abu Muhammad al Barbahariy rohimahulloh : “ Jika kamu melihat sekilas bid’ah dari seseorang maka berhati – hatilah darinya, sebab bid’ah yang tersembunyi dalam dirinya dari pandanganmu tentu lebih banyak dibandingkan yang nampak !”.[ Syarhus Sunnah (28) ]

dahulu dai yang mendirikan radio rodja ini,berkomentar dalam perkara mihrob dengan dalih bahwa para ulama juga sholat di masjid arab saudi mengunakan mihrob ?

yaa ihkwah ini suatu bukti kebid’ahan terhadap dai mereka   Abu Yahya Badrusalam melakukan talbis ” kerancuan ” menyandarkan perbuatannya kepada ulama ? kalimat bathil sebagaimana orang kuburiyyun beralasan bahwa kuburan nabi sholallohu alaihi wa salam posisinya di dalam masjid.

Dalam hadits ini adalah mihrab sebagaimana diterangkan dalam Lisanul ‘Arab dan yang lainnya. Seperti ketika menafsirkan hadits Ibnu Umar secara marfu’ dengan lafadh :

“Takutlah kalian kepada

ini, yaitu mihrab-mihrab.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi 2/439 dan selain beliau dengan sanad yang hasan. As Suyuthi berkata dalam risalahnya, Al I’lam halaman 21 :

“Hadits ini tsabit (kokoh).”

Beliau berhujjah serta berargumen dengan hadits ini tentang pelarangan membuat mihrab-mihrab di masjid-masjid. Dan padanya ada permasalah yang telah aku terangkan dalam Tsimarul Mustathab fii Fiqhis Sunnati wal Kitab yang kesimpulannya bahwa yang dimaksud adalah bagian depan masjid sebagaimana yang ditetapkan oleh Al Manawi dalam Al Faidh.

Kemudian As Suyuthi mengatakan dalam risalahnya tadi bahwa mihrab di masjid adalah bid’ah. Pendapatnya ini disepakati oleh Syaikh Ali Al Qari dalam Murqathul Mafatih 1/474 dan lain-lainnya. Dan ini –yang kumaksud adalah kebid’ahannya– tidak perlu bersandar dengan hadits mu’dhal tadi. Walau hadits ini jelas-jelas menerangkan tentang larangannya namun kita tidak perlu berhujjah dengan hadits yang tidak tetap dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam akan tetapi kita berhujjah dengan yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dari Ibnu Mas’ud bahwa :

“Beliau membenci shalat di mihrab.”

Beliau mengatakan : “Itu hanya untuk gereja-gereja maka kalian jangan bertasyabuh (meniru) ahli kitab.”

Yakni beliau membenci shalat di dalam mihrab. Al Haitsami 2/51 berkata : “Rijal hadits ini adalah tsiqat.”

Aku (Albani) berkata, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibrahim, ia berkata Abdullah (Ibnu Mas’ud, pent.) berkata : “Takutlah kalian terhadap mihrab-mihrab ini.” Dan Ibrahim tidak shalat di situ.

Aku berkata : Ini shahih dari Ibnu Mas’ud, adapun Ibrahim, dia adalah Ibnu Yazid An Nakha’i, walau ia tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud. Maka tampaknya secara dhahir ini adalah mursal. Akan tetapi segolongan para imam menshahihkan hadits-haditsnya yang mursal. Al Baihaqi mengkhususkan kemursalan Ibrahim dari Ibnu Mas’ud. Mengapa demikian?

Aku berkata, pengecualian bagi Ibrahim ini adalah benar. Berdasarkan yang diriwayatkan oleh A’masy, ia berkata, aku bertanya kepada Ibrahim ketika ia menyambungkan riwayat langsung kepada Ibnu Mas’ud maka ia berkata :

“Bila aku mengabarkan suatu hadits kepada kalian dari seseorang dari Ibnu Mas’ud maka hadits tersebut memang aku dengar sendiri (dari orang tersebut). Dan jika aku langsung berkata dari Ibnu Mas’ud maka hadits tersebut aku dengar bukan dari satu orang saja!”

(Al Hafidh memutlakkannya seperti ini di dalam At Tahdzib. Akan tetapi At Thahawi me-maushul-kannya (1/133) dan juga Ibnu Sa’ad di dalam At Thabaqat 6/272. Dan juga Abu Zur’ah di dalam Tarikh Dimasyq 2/121 dengan sanad yang shahih).

Aku berkata (Al Albani), di dalam atsar ini, Ibrahim berkata dari Ibnu Mas’ud. Maka berarti ia telah menerimanya dari jalan yang banyak. Dan mereka adalah para shahabat Ibnu Mas’ud. Maka –ketika itu– jiwa pun menjadi tenang dengan hadits mereka karena mereka banyak. Walaupun mereka tidak diketahui karena mayoritas para tabi’in adalah jujur. Dan khususnya shahabat-shahabat Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Salim bin Abul Ja’d, ia berkata :

“Janganlah kalian membuat mihrab-mihrab di dalam masjid-masjid.”

Dan sanadnya adalah shahih. Kemudian beliau (Ibnu Abi Syaibah) meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Musa bin Ubaidah ia berkata :

“Aku melihat masjid Abu Dzaar maka aku tidak melihat di situ ada mihrab.”

Dan dari Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan atsar-atsar yang banyak dari para Salaf tentang makruhnya membuat mihrab di dalam masjid. Dan yang kita nukil di sini kiranya sudah cukup.

[ selesai penukilan ]

point kedua : mengambil upah dakwah dan mengajarkan al quran
http://www.radiorodja.com/info/penerimaan-santri-baru-takhosus-20112012/

dalil dalil tentang larangan mengambil/meminta mengajarkan al quran dan upah dakwah di bawah ini.

BAB : tentang mengambil upah mengajar al quran

Diriwayatkan dari Abu Darda’ rodhiyalohu anhu, Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, “Barangsiapa mengambil sebuah busur sebagai upah dari mengajarkan Al-Qur’an, niscaya Allah akan mengalungkannya busur dari api neraka pada hari kiamat,” (Hasan lighairihi, HR Ibnu ‘Asakir dalam kitab Taariikh Dimasyq [11/427], al-Baihaqi dalam Sunannya [VI/126]).

Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit rodhiyallohu anhu berkata, “Aku mengajarkan Al-Qur’an dan menulis kepada Ahli Shuffah. Lalu salah seorang dari mereka menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Kata hatiku, busur ini bukanlah harta, toh dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillaah. Aku akan mendatangi Rasulullah shalalohu alaihi wa salam. dan menanyakannya kepada beliau.” Lalu aku pun menemui beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah! seorang laki-laki yang telah kuajari menulis dan Al-Qur’an telah menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Busur itu bukanlah harta berharga dan dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillah.” Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, “Jika engkau suka dikalungkan dengan kalung dari api neraka, maka terimalah!” (Shahih, HR Abu Dawud [3416], Ibnu Majah [2157], Ahmad [V/315 dan 324], al-Hakim [0/41, IH/356], dan al-Baihaqi [VI/125]).

Diriwayatkan dari ‘lmran bin Hushain rodhiyallohu anhu, ia melihat seorang qari sedang membaca Al-Qur’an lalu meminta upah. Ia pun mengucapkan kalimat istirja ‘ ( Innaa lillaahi wa innaa ilahi rooji’uun ), kemudian berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an, hendaklah ia meminta pahalanya kepada Allah. Sesungguhnya akan datang beberapa kaum yang membaca Al-Qur’an, lalu meminta upahnya kepada manusia.” (Hasan lighairihi, HR at-Tirmidzi [2917], Ahmad [IV/432-433, 436 dan 439], al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [1183]).

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu anhu, bahwasanya ia mendengar Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, “Pelajarilah Al-Qur’an, dan mintalah Surga kepada Allah sebagai balasannya, sebelum datang satu kaum yang mempelajarinya dan meminta harta sebagai imbalannya. Sesungguhnya ada tiga jenis orang yang mempelajari Al-Qur’an. Orang yang mempelajarinya untuk membangga-banggakan diri dengannya, orang yang mempelajarinya untuk mencari makan, orang yang mempelajarinya karena Allah semata,” (Hasan, HR Ahmad [111/38-39], al-Baghawi [1182], dan al-Hakim [IV/547]).

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallohu anhu berkata, “Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. keluar menemui kami. Saat itu kami sedang membaca Al-Qur’an, di antara kami terdapat orang-orang Arab dan orang-orang ‘Ajam (non Arab). Beliau berkata, ‘Bacalah Al-Qur’an, bacaan kalian semuanya bagus. Akan datang nanti beberapa kaum yang menegakkan Al-Qur’an seperti menegakkan anak panah. Mereka hanya mencari materi (harta) dengannya dan tidak meng-harapkan pahala akhirat’,” (Shahih, HR Abu Dawud [830] dan Ahmad [III/357 dan 397]).

Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Syibl al-Anshaari rodhiyallohu anhu, Mu’awiyah berkata kepadanya, “Jika engkau datang ke kemahku, maka sampaikanlah hadits yang telah engkau dengar dari Rasulullah shalallohu alaihi wa salam !” Kemudian ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallohu alaihi wa salam. bersabda, ‘Bacalah Al-Qur’an, janganlah engkau mencari makan darinya, jangan-lah engkau memperbanyak harta dengannya, janganlah engkau enggan membacanya dan jangan pula terlalu berlebihan,” (Shahih, HR ath-Thahawi dalam Musykilul Aatsaar [4332], Ahmad [EH/428 dan 444] dan Ibnu Asakir [DC/486]).

BAB : mengambil dan meminta minta upah berdakwah  

Apabila ditinjau lebih dalam lagi maka ujung-ujungnya adalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits:

عن كعب بن عياض قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إن لكل أمة فتنة وفتنة أمتي المال.

Dari Ka’b bin ‘Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya setiap ummat itu punya fitnah dan fitnah ummatku adalah harta. HR. Tirmidzi

عن كعب بن مالك الأنصاري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما ذئبان جائعان أرسلا في غنم بأفسد لها من حرص المرء على المال والشرف لدينه.

Dari Ka’b bin Malik Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tidaklah dua ekor serigala yang dilepas di (kandang) kambing lebih merusak daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kemuliaan terhadap agamanya” HR. Tirmidzi

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا ».

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bersegaralah kalian mengamalkan amal-amal shaleh karena akan terjadi fitnah menyerupai malam yang gelap gulita, dimana seseorang beriman dipagi hari dan kafir di sore hari atau kafir di sore hari beriman di pagi hari, dia rela menjual agamanya dengan sedikit keuntungan dunia”. HR. Muslim.

Penyelisihan Kedua:

Meminta upah dari murid dan mensyaratkannya dalam mengajar, dan ini menyelisihi dakwah para Nabi ‘alahimu shalatu was salam; Allah berkata memerintahkan NabiNya:

} قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ { [الأنعام:90].

“Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran), Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” [Al-An'am: 90].

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ (86) إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (87) وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ [ص/86-88]

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun pada kalian atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk dari orang-orang yang mengada-adakan. Al Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sungguh kalian akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu.” [Shaad: 86-88].

Berkata Nabi Nuh ‘alaihi as-salam kepada kaumnya:

وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ [هود/29]

“Wahai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari sisi Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman2. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Rabb mereka, akan tetapi aku menganggap kalian suatu kaum yang tidak mengetahui”. [Huud: 29].

Demikian juga Nabi Huud, Saleh, Luth, dan Syu’aib ‘alaihimush shalat was salam semuanya berkata kepada kaum mereka:

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

[الشعراء/109,127,145,164,180]

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.” [Asy-Syu'ara: 109, 126, 145, 164, 180].

Perlu pembaca bedakan antara menerima pemberian tanpa meminta atau mensyaratkan untuk itu dengan meminta atau mensyaratkan upah dalam pengajaran (seolah-olah ia berkata saya tidak akan mengajar kalian kecuali dengan bayaran) dan inilah yang dicela oleh para salaf:

Ahmad Bin Hanbal rahimahullah ditanya apakah orang yang menjual hadits, hadits mereka ditulis? Beliau menjawab: tidak, tidak tanpa penghormatan. (Al Kifayah (hal 152)).

Dan Ishaq Bin Rohawaih rahimahullah ditanya tentang Ahlul Hadits mengajar dan meminta upah, beliau menjawab: [Jangan ditulis hadits mereka]. (Siyar A’lamun Nubala (11/329). Dan Al Kifayah (hal.152)).

Dan Syu’bah rahimahullah sangat mengingkari hal ini sebagaimana yang diriwayatkan darinya, Beliau berkata: [Jangan kalian menulis hadits-hadits orang fakir sedikitpun karena sesungguhnya mereka berdusta kepada kalian.] (Muqoddimah Al Kamil (114, 227) dan Al Kifayah 154)).

Termasuk dalam bab ini apa yang dikenal dengan istilah SPP, uang pendaftaran, uang bangunan…atau yang sejenis dengannya.3

Berkata Yahya bin Yaman: Saya mendengar Sufyan Ats-Tsaury berkata: Harta adalah penyakit ummat ini, sementara orang yang berilmu adalah dokter ummat ini, maka apabila seorang alim menarik penyakit (harta) kepada dirinya, kapan kiranya dia bisa menyembuhkan manusia? [ Siyar 7/243, Hilyah 6/361].

[ selesai penukilan ]

point ketiga : menipu umat dalam minta minta [ tasawwul ] pembangunan masjid al barkah radio rodja padahalnya masjidnya sudah rampung

 Saudaraku seiman,saat ini sedang diselenggarakan proses pembangunan masjid al Barkah,dikompleks studio radio Rodja,Alhamdulillah saat ini sudah mencapai proses sekitar 60 %.

Kami mengajak antum,yang Allah Ta’ala berikan keluasan rizki,untuk turut serta berlomba dalam berbuat kebaikan dengan membantu proses pembangunan dengan menginfaqkannya melalui :

1. Bank Syariah Mandiri Cab Cibubur no rek: 10 300 4 8080 a/n : Yayasan Cahaya Sunnah
2.Datang langsung ke panitia pembangunan di studio radio Rodja

untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi panitia:
Kang Agus Hasanudin 081314 255958 atau Studio rodja (021) 7073 6543 atau di (021) 8233661

Berikut ini adalah desain masjid Al Barkah:
Lantai 1 , Lantai 2, Site Plan
Dibawah ini antum bisa melihat rincian dari anggaran selama proses pembangunan

definisi tasawwul atau mengemis di bawah ini

“Tasawwala  (bentuk fi’il madhy  dari  tasawwul)  artinya  meminta-minta  atau  meminta pemberian ”(Al-Mu’jamul Wasith: 1/465)

Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi  Rahimahullah berkata:

“ Sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam (Sesungguhnya meminta-minta) maksudnya adalah menuntut dari manusia agar mereka memberikan sebagian harta mereka untuk dirinya ” (Faidhul Qadir: 2/493)

lalu kita lihat sendiri kondisi masjid al barkah sudah rampung ? lalu mengapa mereka masi meminta minta kepada umat islam ” awam yang berharta ” benar apa yang di katakan syaikh muqbil hadi al wadi’i rohimahulloh

Al-Allamah  Muqbil  Al-Wadi’i Rahimahullah juga  menerangkan  batasan  tasawwul  dalam  kitab Dzammul Mas’alah (Tercelanya Meminta-Minta):

“ Kelompok kedua (dari orang yang buruk  dalam  penggunaan  harta): adalah  kaum  yang berusaha mencuri untuk mengambil harta zakat padahal mereka bukanlah golongan yang berhak  menerimanya. Kemudian  harta  itu  mereka  gunakan  untuk  kepentingan  pribadi mereka ”

(Dzammul Mas’alah: 31)

Di antaranya adalah hadits Abdullah bin Umar Radhiyallaahu ‘anhuma bahwa RasulullahShallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“ Meminta-minta  akan  senantiasa  ada  pada  salah  seorang  dari  kalian  sampai  dia  bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya ” (HR. Muslim: 1724, Ahmad: 4409)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“ Barangsiapa meminta kepada manusia harta mereka untuk memperbanyak hartanya maka dia  hanyalah  sedang  meminta  bara  api  maka  hendaknya  dia  mempersedikit  ataukah memperbanyak ” (HR. Muslim: 1726, Ibnu Majah: 1828, Ahmad: 6866 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu)

Abu Sa’id al-Khudri z menyampaikan sabda Rasulullah n yang mulia:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah l akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421)

Hadits yang agung ini terdiri dari empat kalimat yang singkat, namun memuat banyak faedah lagi manfaat.

Pertama: Ucapan Nabi :
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ
“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah.”

Kedua: Ucapan Nabi :
وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ
“Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki).”

Dua kalimat di atas saling terkait satu sama lain, karena kesempurnaan seorang hamba ada pada keikhlasannya kepada Allah l, dalam keadaan takut dan berharap serta bergantung kepada-Nya saja. Adapun kepada makhluk, tidak sama sekali. Oleh karena itu, seorang hamba sepantasnya berupaya mewujudkan kesempurnaan ini dan mengamalkan segala sebab yang mengantarkannya kepadanya, sehingga ia benar-benar menjadi hamba Allah l semata, merdeka dari perbudakan makhluk.

Usaha yang bisa dia tempuh adalah memaksa jiwanya melakukan dua hal berikut.

1. Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan menjaga kehormatan diri sehingga tidak berharap mendapatkan apa yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta kepada makhluk, baik secara lisan (lisanul maqal) maupun keadaan (lisanul hal).

Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda kepada Umar :
مَا أَتَاكَ مِنْ هذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ, وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ
“Harta yang mendatangimu dalam keadaan engkau tidak berambisi terhadapnya dan tidak pula memintanya, ambillah. Adapun yang tidak datang kepadamu, janganlah engkau/menggantungkan jiwamu kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 1473 dan Muslim no. 2402)

Memutus ambisi hati dan meminta dengan lisan untuk menjaga kehormatan diri serta menghindar dari berutang budi kepada makhluk serta memutus ketergantungan hati kepada mereka, merupakan sebab yang kuat untuk mencapai ‘iffah.

2. Penyempurna perkara di atas adalah memaksa jiwa untuk melakukan hal kedua, yaitu merasa cukup dengan Allah , percaya dengan pencukupan-Nya. Siapa yang bertawakal kepada Allah l, pasti Allah l akan mencukupinya. Inilah yang menjadi tujuan.

Yang pertama merupakan perantara kepada yang kedua ini, karena orang yang ingin menjaga diri untuk tidak berambisi terhadap yang dimiliki orang lain, tentu ia harus  memperkuat ketergantungan dirinya kepada Allah l, berharap dan berambisi terhadap keutamaan Allah l dan kebaikan-Nya, memperbaiki persangkaannya dan percaya kepada Rabbnya.
Allah l itu mengikuti persangkaan baik hamba-Nya. Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh kebaikan. Sebaliknya, bila ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang disangkanya.
Setiap hal di atas meneguhkan yang lain sehingga memperkuatnya. Semakin kuat ketergantungan kepada Allah l, semakin lemah ketergantungan terhadap makhluk. Demikian pula sebaliknya.

Di antara doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi n:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kecukupan.” (HR. Muslim no. 6842 dari Ibnu Mas’ud z)

Termasuk  dalam  konteks  tasawwul  atau  meminta  untuk  kepentingan  diri-sendiri adalah hadits Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari 3 orang. Yaitu: (pertama) orang menanggung beban maka halal baginya untuk meminta -minta sampai dia  mendapatkan hartanya kembali, (kedua) orang yang tertimpa kegagalan panen dalam  keadaan  hartanya  telah  dia  habiskan  untuk  modal  menanam, maka  halal  baginya meminta-minta sampai dia mendapatkan harta penegak kehidupannya. (ketiga) orang yang tertimpa kefakiran sampai disaksikan oleh 3 orang cerdas dari kaumnya bahwa dia tertimpa kefakiran, maka  halal  baginya  meminta-minta  sampai  dia  mendapatkan  penegak  bagi kehidupannya. Adapun selain  3  orang  di  atas  maka  itu adalah  harta  haram  yang  dimakan oleh pelakunya, wahai Qabishah!”

(HR. Muslim: 1730, An- Nasa’i 2533, Abu Dawud 1397)

[selesai dalam menyangkut tasawwul]

adapun perkara lain yang bersifat sama hanya perbedaan dari caranya seperti di bawah ini

Hukum Proposal Permohonan Dana

Soal :

Kami memiliki sebuah madrasah untuk anak-anak (TK) laki-laki dan perempuan. Usia mereka berkisar antara 5–12 tahun. Mereka adalah putra-puti salafiyyiin. Pengajarnya dari tamatan Al Jami’ah Al Islamiyah. Praktek belajar mengajar di satu lokasi dengan hijab di antara pelajar. Dan perlu diketahui bahwa madrasah ini tidak berkaitan dengan pemerintah. Pertanyaan kami : Apakah boleh bagi kami untuk mengumpulkan dana dari ikhwah Salafiyyah khususnya untuk mengelola madrasah satu-satunya milik kami tersebut?

Jawab :

Adapun yang berkaitan dengan pengajaran anak-anak kecil hendaknya dilakukan dari belakang tabir (hijab) sekiranya tidak terjadi campur baur antara anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan, baik ketika naik atau turun, keluar atau masuk, masing-masingnya dibuat tempat tersendiri. Apabila ketika masuk dan keluar terjadi ikhtilath, maka tidak dibenarkan.

Adapun bila usia mereka 12 tahun, maka tidak dibenarkan kalau dikategorikan masih kecil. Berapa banyak anak perempuan yang seusia ini sudah menikah, bahkan kalau toh mereka masih kecil, tidak dinasihatkan untuk melakukannya karena ini  merupakan tangga fitnah, sebagaimana yang telah kami terangkan dalam kesempatan yang lalu yang intinya bahwa perkara ini adalah dari praktek orang-orang barat dan propaganda mereka agar anak-anak terbiasa dengan kebatilan dan kemungkaran dan seterusnya. Adapun apabila tidak terjadi ikhtilath maka baik-baik saja sebagaimana disebutkan dalam soal sehingga tidak terjadi fitnah di antara laki-laki dan perempuan.

Kalau mengajarnya lewat pengeras suara atau yang lainnya dari alat yang bisa menyampaikan suara kepada mereka, maka alangkah baiknya.

Perkara kedua, kami menasihatkan kepada yang berniat untuk mengulurkan dananya kepada mereka, maka mudah-mudahan Allah memberinya pahala. Adapun apabila kita berjalan dari pintu ke pintu orang menyodorkan proposal, bahwa kita mengelola madrasah yang diajarkan di dalamnya pelajaran ini dan itu kemudian mereka memberikan dananya (karena sodoran ini), maka hendaknya dijauhi perkara yang seperti ini.

Dan orang yang berniat untuk berbuat baik akan menyalurkan dananya kepada mereka (tanpa diminta). Allah berfirman:

﴿ فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ * لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ ﴾ [الغاشية:21-22]

“Dan berilah peringatan, karena engkau hanya sebagai pemberi peringatan dan bukanlah penguasa mereka.“ (Al Ghosiyah 21-22)

﴿ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ﴾ [فاطر:8]

“Dan janganlah kamu bawa dirimu kepada kegundahan atas mereka.“ ( Fathir 8 )

Yang Allah kehendaki kebaikan akan disampaikan.

Allah berfirman :

﴿ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ﴾ [آل عمران:154]

Katakanlah sesungguhnya semua perkara milik Allah.” (Ali Imron:154)

﴿ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ ﴾ [الروم:4]

“Milik Allahlah perkara, sebelum dan sesudahnya.” (Ar Rum:4)

﴿ قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴾ [آل عمران:26]

“Katakanlah, Ya Allah, Engkaulah Pemilik kekuasaan. Engkau memberi kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan yang Engkau kehendaki. Di TanganMu lah semua kebaikan. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imron:26)

Maka kebaikan hanyalah di tanganNya.

Inilah intinya. Jangan kamu melelahkan dirimu dan menghinakan diri, merunduk-runduk menganjurkan orang untuk jadi donatur. Kewajibanmu sekedar mengingatkan kebaikan yang ada. Contohnya, anjurkan kepada ilmu, keutamaan ilmu dan semisalnya, dan manusia akan menyalurkan dananya insya Allah (tanpa kalian minta).

(Al As’ilah Salafiyyah Al Malaiziah)

Fatwa Dari Al Allamah Al Imam Asy-Syaikh Yahya Al Hajury Hafidhohulloh

point ke empat :  

Hukum mendirikan yayasan dan organisasi untuk dakwah

Soal :

Apa hukum mendirikan yayasan atau organisasi untuk menyebarkan da`wah salafiyyah? karena di negeri kami kalau yayasan atau organisasi ini tidak berdiri maka kebanyakan orang tidak tertarik kepadanya bahkan mereka menuduhnya sebagai da`wah yang sesat. Maka sebagian da`i mendirikannya untuk kesinambungan  da`wah ini. Jazakumullahu Khairan.

Jawab :

Saya katakan kepadamu wahai saudaraku ajarkanlah pelajaran di masjid dan tetaplah di dalamnya walaupun sendiri. Barangsiapa yang datang kepadamu di atas kebaikan dan sunnah dan walaupun hanya sepuluh orang bersamamu dan kamu ajari mereka kitab dan sunnah  maka engkau dianggap sebagai da`i yang beruntung dan berhasil.

Demi Allah sepuluh orang yang datang kepadamu dan kamu mengajari kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam kepada mereka dan mereka keluar sebagai ulama dan da`i maka sesungguhnya engkau beruntung. Tinggalkanlah keinginan mencari pengikut yang banyak dan mengumpulkan pengikut dari sana dan sini dengan alasan orang awwam berkata demikian mereka menginginkan demikian dan mereka menyukai demikian.

Wahai saudaraku, orang-orang awwam sangat butuh pengarahan untuk diri mereka sendiri bukanlah mereka yang mengarahkanmu dan menguasaimu, sebaliknya kamulah yang harus menjelaskan kepada mereka bahwa belajar agama di masjid adalah lebih utama. Dan bahwasanya kita salafiyyun tidak butuh terhadap organisasi, karena organisasi ini tidaklah mendatangkan sesuatu bagi manusia kecuali percekcokan, penyakit, perpecahan dan perselisihan serta menyempitkan dada.

Rasulullah Shallalahu `alaihi wa aalihi wa sallam bersabda:

«من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد»

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam perkara agama kami ini maka yang ia bukan bagian darinya maka ia tertolak” (Hadist Aisyah Radiyallahu `anha Riwayat Al-Bukahri (2697) dan Muslim (1718))

Demi Allah ketetapan dan kondisi  perkara ini di zaman  Rasulullah shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam sudah ada. Ustman bin Affan radhiyallahu `anhu dia adalah golongan hartawan, Abdurrahman bin `Auf radhiyallahu `anhu ia adalah golongan hartawan dan Abu Thalhah setelah itu menjadi golongan hartawan juga dan sejumlah  hartawan dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi mereka ada Ashaabus Suffah. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi shodaqoh maka beliau mengirimkan shodaqoh itu kepada mereka sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah (diriwatkan Al-Bukhari 6452) dan jika beliau diberi hadiah maka beliau mengambil sebagiannya kemudian beliau memberikan kepada mereka dan beliau tidak berkata “Berkumpullah kalian dan buatlah kotak infaq atau organisasi untuk Ashabus Suffah dan yang semisal denganAshabus Suffah“. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika didatangi tamu maka beliau mengirim tamu itu kepada keluarga-keluarga beliau, maka beliau tidak mendapatkan sesuatu kecuali air. Setiap istri beliau berkata, “Demi Allah kami tidak memiliki sesuatu keculai air,” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapa yang hendak menjamu tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”  maka dibawalah dia oleh salah seorang shahabat beliau dan ia diberi makan makanan anak kecil. (Hadist tersebut di dalam As-Shahihain dari hadist Abu Hurairah, Al-Bukhari 4889 dan Muslim 2094)

Janganlah salah satu  di antara kalian merasa gentar dan takut untuk mengatakan kebenaran. Demi Allah organisasi-organisasi ini tidaklah datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya katakan ini dengan terus terang!! Ia tidaklah datang kecuali dari orang-orang yang menganggap baik dalam agama mereka. Mereka tidak memiliki syara’ yang benar yang mereka jalani di dalam agama mereka. Karena itu mereka mendatangkan sesuatu dari mereka sendiri untuk mereka jalani seperti Jam’iyyah Yunus, organisasi ini, organisasi itu. Adapun kita, maka agama kita adalah agama rahmah dan agama kita adalah agama yang benar, memberi hak pada setiap yang berhak mendapatkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

“Seorang mukmin dan mukmin yang lain ibarat bangunan. Yang mana sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (Hadits Abu Musa Al Asy’ari, Bukhari 481 dan Muslim 2585)

«مثل الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ»

“Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam menyayangi dan mencintai sesama mereka seperti satu jasad.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Nu’man bin Basyir)

Sedangkan agama kita adalah agama yang mensyariatkan zakat, sedekah, dan berbuat baik kepada orang tua dan memberi hak tetangga, hak persaudaraan dan memuliakan tamu, maka kita tidak butuh terhadap organisasi semacam ini. Kita berjalan di atas jalan salaf kita –rahimahumullah-.

(Al As’ilah Al Indonisiah, 25 Jumadi Tsaniyah 1424 H)

Fatwa Dari Al Allamah Al Imam Asy-Syaikh Yahya Al Hajury Hafidhohulloh

[ selesai penukilan ]

alhamdulillah ana cukupkan perkara ini insya alloh kita sambung lagi…….

barakallohufiikum

About these ads

About abuabdirrohmanjakarty

semoga kami selamat dari fitnah

Posted on November 7, 2011, in AKIDAH TAUHID & manhaj and tagged . Bookmark the permalink. 35 Komentar.

  1. Jazakumullahu khoiran, teruskan penjelasan dan hujjah antum semua, jangan lupa dengan dalil yang shohih, kami menyimak dan semoga Allah memberikan hidayah taufiq dan hidayah ‘ilmu kepada kami.

  2. Rodja = Firanda = Surury kan ??
    Para syeikh mengatakan Firanda “Kadzab”, dengarlah kalian para pendengar rodja..

    Astaghfirullah ada musang berbulu domba membawa nama salafy ^_^

    Kami tahu kartu kalian semua…kami tahu dari mana dana Rodja dan siapa saja yang mengaku-ngaku salafy didalam Rodja…
    hal ini kita lakukan agar umat tahu kebokbrokan Manhaj sang Pendusta yang pandai bersilat lidah yang menjadi kebanggaan Sururyyun terkhusus Radio Hizby Rodja yang bermarkas di cileungsi.

    • Silakan dibeberkan… Nggak usah takut… Nanti insya Allah akan kita konfirmasi dengan asatidz pengelolanya. Tafadhal…

  3. Rodja Surury
    Apa perlu kami bongkar Rodja = Firanda = Surury disini ???

  4. masa sih??
    mengajarkan alquran emang g boleh minta upah.
    lah wong ngajar bahasa arab??

    beda kali maknanya.
    mohon ditanggapi

  5. Bismillah. Mau tanya. Bagaimana dgn yg di Univ Islam Madinah yg didirikan oleh Syekh Bin Baz, Syeikh Al Bani sbg dosen. Apa para ulama di Univ tsb nggak digaji? Apa ada fatwa ulama tsb yg mengaramkan gaji dari univ ?. Mohon penjelasan.

  6. Imam Masjidil Haram kira2 dibayar atau tidak ??

  7. akhi kenapa antm ga naik onta tiap hari kan sunnah nabi. jawab antm kan tu cuma sarana. permasalahannya jaman nabi apa ada organisasi? tentu aneh klo nabi membahas organisasi apalagi menharamkannya begitu juga para salaf krn memang jaman itu blm ada.. aneh klo ada orang bilang para salaf mengharamkan.. itu dusta bukan? lalu petanyaannya organisasi itu sarana atau maksud tentu saja hanya sarana (seperti onta tadi) yg bisa bermakna baik bila tujuan dan cara penggunaannya baik dan bisa bermakna sebaliknya bila salah. sungguh pemahaman yg aneh! pertanyaan kang wahyu kudu dijawab tuch..

  8. Bismillah
    Afwan, ijinkan saya bertanya tentang hadits :
    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

    “ Barangsiapa meminta kepada manusia harta mereka untuk memperbanyak hartanya maka dia hanyalah sedang meminta bara api maka hendaknya dia mempersedikit ataukah memperbanyak ” (HR. Muslim: 1726, Ibnu Majah: 1828, Ahmad: 6866 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu)

    bukankah dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa meminta2 untuk memperbanyak harta dilarang dengan ancaman yg besar, bukan untuk membantu saran dan fasilitas dakwah ?

    • Menghinakan & menjelekkan agama

      Demikianlah meminta minta (mengemis) adalah suatu perbuatan yang hina & jelek , menghinakan orang yang melakukannya , terlebih lagi kalau yang melakukannya membawa dengan nama agama(anak yatim , sedekah, dll) dia pun dengan itu menghinakan agama yang mulia dan agung ini :

      وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

      Dan hanya milik Alloh-lah Kemuliaan(Keagungan)dan bagi Rosulnya serta bagi kaum mukmin , akan tetapi orang-orang munafik tidak mengetahiunya ( Al-Munafiqun 8 )

      Di karenakan mulianya agama ini , Allah dan Rosulnya pun melarang & mengharomkan seluruh bentuk yang menghinakan( diantaranya adalah meminta-minta),

      وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

      (dan orang-orang yang berbuat kejahatan(dosa) balasan(nya) adalah kejelekan yang setimpal dan mereka tertimpa kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari(azab)Alloh) (Yunus 27)

      Saya langsung mendengar sebagian masyarakat mengatakan bahwa Hidayatullah adalah pengemis. Yang demikian itu disebabkan mereka terkenal dengan proposal dan minta-minta. Demikiaanlah masyarakat mereka menyangka bahwa inilah ajarannya Muhammad -shollallohu `alaihi wa sallam- , sedangkan beliau berlepasdiri darinya.

      Sungguh benar apa yang disebutkan oleh Asy-syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy –rohimahulloh- dalam kitab Hadzihii da’watunaa wa ‘aqiidatunaa hal 18-19 setelah menyebutkan tentang buruknya belajar dan mengajar dengan mengharapkan upah (dunia)

      بل أقبح من هذا أن الدعوة قد أصبحت مصدر رزق عند كثير من الناس , فرب شخص يتظاهر بالدوة إلى الله , و يجمع الأ موال من عند الناس , ثم يشتري بها أراض و سيرات لمصلحته خاصة , و هذه إساءة إلى الدين و الدعوة إلى الله

      Bahkan yang lebih buruk dari perkara ini , bahwa sesungguhnya dakwah telah menjadi sumber rezki (lapangan kerja) pada kebanyakan manusia , maka seseorang menampakkan dirinya dengan (memikul)dakwah kepada Alloh , dan menggalang dana dari manusia , kemudian ia membeli dengannya tanah , mobil untuk kepentingan pribadinya , dan perkara ini adalah bentuk keburukan terhadap agama dan dakwah kepada Alloh .

      Juga berkata :

      وهناك غير واحد يركضون باسم دعوة أهل السنة بدماج، وذاك يطلب تزكية، وذاك يطلب شفاعة، وأنا بسبب كثرة شواغلي أشغل عن التفكير في التاريخ، فتبقى هذه الشفاعة صالحة لأي وقت، وربما صوّرت لآخر، وبعد اطلاعي على هذا التلاعب المخزي فإني أبطل كل الشفاعات السابقة وتنتهي من يومنا هذا (4/شهر ذي الحجة/ سنة 1413هـ) حتى لا نعين على إهانة الدعوة.

      Dan disana tidak seorang yang bergerak dengan nama dakwah Ahlussunnah di Dammaj , yang itu meminta tazkiah/rekomendasi , dan yang itu meminta syafaat , dan saya dikarenakan bayak-nya kesibukan lalai untuk mengigat(untuk mencantumkan) tanggal-nya , sehingga syafaat tersebut layak untuk setiap waktu , dan bisa saja di cetak untuk orang lain , dan setelah saya mengetahui penipuan yang hina ini , maka saya membatalkan (menyatakan tidak sah) seluruh syafaat-syafaat yang telah lalu dan berakhir pada hari ini ( 4 dzulhijjah 1413 H ) agar kita tidak turut membantu dalam menghinakan dakwah . ( lihat muqoddimah dzammul-mas alah/tercelanya meminta-minta)

      Menghalangi manusia memeluk da`wah yang benar.

      Oleh karena itu, perkara ini dapat menghalangi manusia untuk ikut memeluk agama yang haq ini . Tidak mengherankan kalau seorang Nashroni, orang awam, terus teguh di atas agama dan pendiriannya dengan mengatakan saya tidak mau seperti mereka (pengemis) tidakkah kita melihat yang memenuhi masyarakat dengan minta-minta adalah mereka yang memakai jubah, jilbab, kopiah, atau selainnya dengan berkedotkan nama da`wah atau islam , dari rumah-kerumah , toko-ketoko, bahkan diantara mereka mendatangi kediaman dan toko orang-orang non muslim . wallohu Al-Musta`an

      وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

      (Dan kalian akan merasakan kejelekan sisebabkan kalian menghalangi-halangi (manusia)dari jalan Alloh.dan bagi kalianlah siksaan yang besar) (An-Nahl 94)

      Perkara-perkara ini juga memastikan haromnya meminta-minta.

      Maka marilah kita mengagungkan agama yang mulia ini dengan meninggalkan perkara tersebut

      ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

      (Demikianlah barang siapa yang mengagungkan perkara yang terhormat di sisi Alloh, maka itu adalah lebih baik baginya disisi Robnya) (Al-Hajj 30)

      ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

      (Demikianlah barang siapa yang mengagungkan syi`ar-syi`ar Alloh, maka itu adalah dari ketaqwaan hati) ( Al-Hajj 32)

      أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

      Apakah kamu meminta upah pada mereka sedang mereka dari utang merasa berat? (Al-Qolam 46)

      اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُون

      Ikutilah (da`wah ) siapa yang tidak memintai kalian balasan (upah) sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yaasiin 21)

      Jawaban:

      Adapun pendalilan yang di sebutkan Al-ahk dalam bolehnya minta-minta dalam risalahnya (riwayat muslim (ana lupa siapa sahabatnya) di mana Rosululloh -shollallohu `alaihi wa sallam- memerintahkan panglimanya meminta jizyah pada orang orang kafir kalau tidak mau masuk islam, kalau menolak diperangi )

      Sepertinya yang dimaksud adalah hadits Buraidah -rodhiyallohu `anhu- yang diriwayatkan oleh imam Muslim no 1731, maka tidak ada pendalilan sama sekali. Akan tetapi hanya memperlihatkan tentang rendahnya pemahamannya, ditinjau dari beberapa sisi:

      Pertama : bedanya lafal jizyah dan mas-alah (minta-minta)

      Lafal jizyah digunakan untuk mereka yang non muslim, bagaikan pajak(bayaran) untuk menjaga atau jaminan hidupnya/keamanan , berbeda dengan minta-minta!! Ada atau tidaknya harta yang diminta tidaklah berbahaya bagi yang mengeluarkannya.

      Kedua : Jizyah dipungut dari orang-orang kafir sebagai bentuk hinaan dan kerendahan bagi mereka , dan sebagai bentuk kemuliaan & keagungan islam, sebagaimana dalam hadits tersebut dan dalam firman Alloh :

      قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

      (Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak pula kepada hari ahkirat dan mereka tidak mengharamkan apa-apa yang di haramkan oleh Alloh dan Rosulnya dan tidak beragama dengan agama yang haq, ( yaitu )ahlulkitab( yang diturunkan al-kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan hina/rendah) (At-Taubah 29)

      Berbeda halnya dengan minta-minta, orang yang memintalah yang terhinakan , sebagaimana telah lalu pembahasannya, dan Rosullulloh -shollallohu `alaihi wa sallam- juga bersabda:

      وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

      Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa yang menyelisihi perintahku (agamaku), dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia dari kaum tersebut)

      Diriwayatkan oleh Ibni Abi Syaibah dari Ibni `umar -rodiyallohu `anhu-

      Faidah : Berkata Al-Hafidz bin Hajar berkata Al-`Ulama` : Hikmah dari adanya Jizyah : bahwa sesungguhnya kehinaan yang meluputi mereka akan menggiring mereka untuk masuk dalam islam bersamaan dengan bergaulnya mereka dengan kaum muslimin, disebabkan mereka menyaksikan kebaikan-kebaikan agama islam. (lihat Fath Al-Bary jilid 6 hal 311)

      Ketiga :

      Dalam pendalilan ini mencakup suatu perkara yang keji lagi berbahaya, yaitu penyamaan antara muslim dan kafir, sedangkan perkara ini adalah suatu perkara yang dima`lumi bersama kecuali orang yang tidak memiliki kecermatan …

      Alloh berfirman:

      أمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

      (patutkah kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ? Patutkah pula kami menjadikan orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang durhaka( berma`siat) (Shood 28)

      dan juga berfirman:

      أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

      (Apakah patut kami menjadikan orang-orang islam itu sam dengan orang-orang yang berdosa(kafir)? Mengapa kamu(berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan/kebijakan?) (Al-Qolam 35-36)

      Adapun istidlal dengan hadits Sahl bin Sa`ad di mana Rosululloh -shollallohu `alaihi wa sallam- meminta dibuatkan minbar,

      Juga tidak ada pendalilan padanya, tidak ada lafal meminta di dalamnya. Sebagaimana hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhory dalam Shohihnya beliau berkata:

      باب الاستعانة بالنجار والصناع في أعواد المنبر والمسجد

      Bab meminta pertolongan kepada tukang kayu dan buruh dalam (membuat) minbar dan masjid

      حدثنا قتيبة قال حدثنا عبد العزيز عن أبي حازم عن سهل قال : بعث رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى امرأة أن ( مري غلامك النجار يعمل لي أعوادا أجلس عليهن )

      Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, berkata telah mengabarkan kepada kami `Adul`aziz dari Abi Hazim dari Sahl rodiyallohu `anhu beliau berkata Rosululloh -shollallohu `alaihi wa sallam- mengutus kepada seorang wanita agar (perintahkan budakmu tukang kayu untuk membutkanku sesuatu dari kayu (agar) aku duduk di atasnya)

      حدثنا خلاد قال حدثنا عبد الواحد بن أيمن عن أبيه عن جابر : أن امرأة قالت يا رسول الله ألا أجعل لك شيئا تقعد عليه فإن لي غلاما نجارا ؟ قال ( إن شئت ) . فعملت المنبر

      Telah mengabarkan kepada kami Khollaad telah mengabarkan kepada kami `Abdulwahid bin Aiman dari ayahnya dari Jabir :

      bahwa seorang wanita berkata: wahai Rosululloh -shollallohu `alaihi wa sallam- hendakkah engkau aku buatkan sesuatu (agar) engkau mendudukinya? Karena sesungguhnya aku memiliki budak tukang kayu!

      Beliaupun menjawab (kalau engkau mau (terserah)) maka diapun membuat mimbar.

      Jika diperhatikan maka kedua hadits tersebut , bertolak belakang, yaitu pada hadits Sahl Rosululloh -shollallohu `alaihi wa sallam- yang memerintah untuk dibuatkan minbar, dan pada hadits Jabir sang wanitalah yang menawarkan kepada Rosululloh -shollallohu `alaihi wa sallam-!! Maka mari kita kembalikan perkara ini kepada ahlinya ,

      Al-Hafidz bin Hajar -rohimahulloh-, agar permasalahan ini lebih jelas. Beliau berkata dalam Fath Al-Bari jilid 1 hal. 684 terbitan Maktabatu Ash-shofa :

      Ibnu Batthol -rohimahulloh- menjawab (perkara ini) : suatu kemungkinan bahwa sang wanita yang menawarkan kebaikan , ketika dia mendapatkan jawaban , sang tukang telat dalam menyelesaikannya , maka Rosul-pun mengutus agar mempercepatnya , karena beliau tahu senang(ridho)nya wanita tadi dengan apa yang ia keluarkan(infaq/harta).

      Beliau juga berkata: kemungkinan Rosululloh -shollallohu `alaihi wa sallam- mengutus seseorang kepadanya agar menjelaskan kepadanya(wanita) tentang sifat/bentuk yang akan di buat oleh budaknya , yang terdiri dari kayu agar menjadi sebuah minbar.

      Aku berkata(Al-Hafidz) -rohimahulloh- : Penulis (Al-Bukhory) telah meriwayatkan hadits ini dalam Tanda-tanda kenabian , dengan sanad ini dengan lafal ( hendakkah engkau aku buatkan minbar) maka bisa saja pembeitahuan tersebut dalam bentuk sifat minbar yang kusus , atau ketika Rosululloh -shollallohu `alaihi wa sallam- menyerahkan perkara tersebut kepadanya dalam sabdanya (kalau engkau mau (terserah)) maka itulah penyebab lambatnya , bukan berarti budaknya yang lambat dan bukan pula dia tidak mengetahui sifatnya.

  9. UST FIRMAN : APA GAK BOLEH NGAMBIL UPAH DARI HASIL NGAJAR???

    • afwan ana bukan ustadz,tidak boleh menetapkan upah dakwah seperti SPP adapun di beri untuk cukup di makan kebutuhan 1 hari di perbolehkan jika keadaannya tidak mampu tidak ada makanan untuk di makan maka boleh di ambil secukupnya asalkan tidak minta minta kepada kaum muslimin.

  10. kalo d kasih mah gpp kan bang???? misalkan saya belajar ngaji, terus saya ngasih ke yg ngajar mah gpp kan????

  11. Assalamu’alaikum saudaraku yg kucintai

    “tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam keburukan dan maksiat.”

    jika antum menilisik lebih jauh lagi mengapa hanya radio rodja yg di rincikan diatas :

    – dakwah sunnah
    – radio muslim
    – dan radio-radio muslim lainnya yang sudah tentu masing” pendengar berpegang teguh kepadanya sbgai sarana/usaha pendengar untuk memperoleh makanan yg bermanfaat dalam konten yg diamanahkan (dakwah) dari Rasul tercinta alaihisholatuwassalam untuk mendalami aqidah dan memahami sunnahnya …

    Bagaimana demikian ?

    “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dianggap asing ditengah umatnya”..

  12. BIsmillah… Terima kasih atas penjelasannya.. Bagaimana kalau antum berikan contoh kepada kami ttg kegiatan dakwah yg antum adakan (tentunya terlepas dari bahaya2 diatas) agar manfaatnya lebih meluas… Agar tidak ada yg mengatakan bahwa tulisan antum hanya omong kosong belaka…. Barokalloh fik…

  13. assalamualaikum, sy pernah menawarkan kepada warga desa siapa yang mau berinfaq untuk kepentingan umat yaitu untuk membangun mesjid boleh nggak (“menawarkan supaya kaum muslim beribfaq) seperti Rosulluloh menawarkan siapa yang mau menjamu tamuku, atau siapa yang mau berinfaq kejalan Allah, atau siapa yang mau bersedekah untuk sifulan,kalo mesjid udah jadi masih menerima sumbangan pembangunan masjid biasanya masih ada kekurangan hutang di material misalnya, buruk sangka itu nggak baik saudaraku, harus konfirmasi dl, trus kalo nggak boleh ambil gaji lebihagak susah juga yaa kalo di sekolah swasta misalnya, guru fisika gaji 3,5 juta tetapi guru ngaji ( agama cukup 750 ribu ajah karna cukup buat sehari2) padahal guru ngaji itu lebih penting dari fisika, dan alhamdulillah sekarang guru agama kesejahteraan di perhatikan pemerintah, dan alhamdillilah dengan penghasilan anak2 bisa beli kitab dan alat tulis serta biaya lainya untuk agama anak2,

    dan untuk :
    “afwan ana bukan ustadz,tidak boleh menetapkan upah dakwah seperti SPP adapun di beri untuk cukup di makan kebutuhan 1 hari di perbolehkan jika keadaannya tidak mampu tidak ada makanan untuk di makan maka boleh di ambil secukupnya asalkan tidak minta minta kepada kaum muslimin”
    “nanti di akhir jaman akan banyak orang yang berbicara agama dengan terjemahan yang rendah” memang kita harus banyak belajar ilmu agama dan kalo bisa kitabus sittah harus minimal hafal, dammaj bukan satu satunya hujjah prilaku muslim takut nggak terasa anti hizbi tapi ngajak hizbi (khusus dammaj), pa yang akan di ambil dari orang yang bukan ustadz, bukan ulama, ???

  14. bingung dengan comentar2 antum semua, ana orang awam, kemana harus mencari islam yang benar

    • Bismillah,
      Berpegang Teguh dan BerFANATIKLAH kepada KEBENARAN dan jangan sekali kali berFANATIK kepada Golongan atau TAQLID tanpa ILMU,… Banyak diluar sana yang menawarkan Pemahaman ISLAM dengan berbagai sajian…… Yang terpenting bagi kita para PENCARI KEBENARAN adalah ambilah KEBENARANNYA, karena yakinlah kebenaran itu datangnya dari ALLOH Azza Wa Jalla

      dengan Artikel di atas semoga tidak menjadi Fitnah bagi sesama UMAT ISLAM yang menisbatkandirinya mengikuti salafush sholeh … dan semoga mereka yang PAHAM akan masalah diatas(artikel) dapat saling introspeksi diri KARENA setiap manusia senantiasa berpotensi melakukan Dosa dan juga berpotensi melakukan amal sholeh…

      Tidak baik kita berselisih apalagi berpecah belah, semestinya yang dilakukan adalah BERIKAN PERINGATAN LANGSUNG kepada yang bersangkutan tidak perlu di EXPOSE itu lebih baik, bukankah sesama MUSLIM itu bersaudara … BUKANKAH sesama Muslim itu Haram Darah dan Hartanya….

      Jangan pernah merasa paling BENAR karena KEBENARAN itu milik Alloh Azza Wa Jalla, Manusia itu kadang berada dalam kesalahan dan kadang berada dalam kebenaran yang harus kita LAKUKAN adalah terus berusaha untuk tetap berpegang teguh diatas jalan yang LURUS yaitu jalan yang Rosullulloh dan para sahabatnya berada diatasnya

      JAUHI SYIRIK tetaplah di jalur TAUHID dan JAUHI BID’AH tetaplah dijalur SUNNAH

      semoga bermanfaat, Barokallohu fiikum

  15. Islam yang benar adalah hidayah dari Allah Ta’ala dengan jalan berdoa agar selalu diberi petunjuk, Sholat 5 waktu jamaah di masjid tanpa bolong2, berakhlak baik, sopan santun lemah lembut gemulai, ikut Sunnah2 Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mulai dari yang kecil2, adab2 makan minum, berpakaian dll, dan selalu bersyukur atas Rahmat dan Nikmat Allah Ta’ala. Amalkan dari yang kecil2 yg ijma’ kebenarannya alias tanpa ada perselisihan. InsyaAllah antum akan diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala apa2 yang memang benar.
    InsyaAllah, Amiin.

  16. maaf saya tanya, kalau yang dilakukan radiorodja itu sesat, bagaimana dengan NU? itu NU sekolah/madrasah/pesantrennya kan juga ngajarin agama, siswa/santrinya dipungut biaya ga? mayoritas TPQ/TPA di Indonesia, yang diselenggarakan di masjid atau lembaga2, yang mayoritas milik NU apakah menggratiskan biaya? apa NU ngga pernah mengajukan proposal permohonan bantuan dana buat membangun/rehab masjid, kantor2 NU, sekolah NU, pondok2 NU? apa kyai2 atau ustadz2 NU yang ceramah ngisi pengajian itu nolak dikasih amplop atau “nasi berkat”?

  17. Maaf aku lagi baru belajar dan ngaji ama teman teman salaf, membaca blog ini jadi bingung.. dan semakin dibaca jadi malah males ngaji..
    Ya Alloh.. Tunjukkan hidayah padaku…

    • saya setuju… sudah lebih dari 1 dekade kayaknya salafy atau istilah ‘yang ngaku2 salafy” ribut melulu di internal mereka…saling lempar isu hizbi, sururi, dsb…apakah antum pernah memikirkan bahwa orang awam atau yang baru saja mendapat hidayah akan menjadi bingung dan akhirnya lemah lagi semangat belajar agamanya? apakah antum bisa lebih bijaksana dan lemah lembut dalam berdakwah, seperti yang diperintahkan Allah kepada Musa agar berlemah lembut kepada Fira’un? apakah mereka lebih buruk daripada Fira’un yang mengaku sebagai Tuhan? #mudah2an kita semua mendapat hidayah Allah# walaupun saya sedikit khawatir nulis komentar ini nanti didakwa sebagai pengikut sururi….apapun tuduhan ente, saya mengakui bahwa saya hanyalah hamba Allah yang bodoh dan banyak berdosa……

  18. Afdhal Hasan Abdullah

    Assalamualaikum ww.
    Di Indonesia saat ini hampir semua orang dalam melaksanakan ibadah tidak lagi sesuai “ATURAN” atau sunnah, bagaimana cara untuk mengatasinya? Malah Radio/TV Rodja sering difitnah, dianggap sesat. Jadi mau dibawa kemana ummat ini ?

    • Assalamualaikum ww.
      orang yang mengatakan sesat karena mereka enggan menerima kebenaran yang datangnya dari orang lain, dan menggap kebenaran datangnya dari kelompok atau diri mereka sendiri. sederhana saja ikuti al-Qur’an dan sunnah.

  19. “Pemiliki blog”
    menerima upah dakwah berbentuk gaji jika mencukupi keluarga dengan cukup kebutuhan tidak mengapa

    adapun meminta upah dakwah,atau menerima gaji melebihi kebutuhan sehari harinya
    maka ini termasuk ayat ayat di atas

    Pertanyaan :

    1. Bisakah antum jelaskan berapa jumlah kebutuhan manusia dalam sehari?
    2. Standar apa yang antum gunakan untuk mengukur tingkat kebutuhan manusia sehari-harinya?
    3. darimana antum tahu bahwa mereka (staff pengajar atau ustadz) di sana menerima upah melebihi dari yang mereka butuhkan sehari-hari?
    4. Menurut antum, apa yang harus dilakukan oleh seorang ustadz untuk memberikan nafkah kepada keluarganya jika mereka telah menghabiskan waktunya untuk mengajar sehingga tidak bisa lagi mencari pekerjaan lainnya selain mereka mengaharapkan upah dari mengajar para santri?
    5. Apakah yang antum akan lakukan jika antum seorang ustadz? apakah antum mau ngajar gratisan ke santri? bahkan waktu antum habis untuk mengajar mereka? mhn penjelasan.

    syukron, jazakallahu khair.

  20. Asalamualaikum …..admin ana baru kenal salaf selama ini rujukan hamba ustad ustad radio rodja,terus klo rodja di angap sesat ke media atau ustad siapa saya harus belajar…?

    • Saran ana antum belajar sama ustadz-ustadz salafi. Situs rujukannya darussalaf.or.id. Alhamdulillah radionya juga banyak. Barakallahu fiikum.

  21. Inilah tuduhan akhir zaman, penjelasan admin, bagus namun salah sasaran, sepanjang upah itu untuk kebaikan tak mengapa admin, pake logika anda admin, org yg mengjar jg manusia butuh makan, butuh penghidupan, jika rasulullah dulu memberikan pengajaran namun belia mempunyai jenis usaha lain, dan beliau mengajarkan bukan seperti sekarang cuma mencontohkan dan para sahabat melihat apa yg dikerjakanya, dan rasulullah tdk membuat organisasi mengajar, jadi tolong admin berfikir kembali sebelum menghujat, jika org yg mulai bertobat lalu meninggalkan yg haram cth pegawai bank,mdan kemudian dia mendapatkan rejeki halal dlm mengajar itu, apa itu salah juga? Syukron, jazakallahu khair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: